Selamat Datang di Website Resmi Gerakan Rakyat Anti Pemiskinan Jakarta

Jumat, 07 November 2008

Dikdas DKI Jakarta Dinilai Tidak Transparan

Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta dinilai tidak memiliki pelayanan publik yang profesional. Kinerja instansi ini dinilai lamban dalam menghadapi aduan masyarakat, termasuk penyelesaian masalah seputar dunia pendidikan dasar yakni sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Menurut Koordinator Lapangan Gerakan Rakyat Anti Kemiskinan (Garap) Subandi Ismail, APBD 2008 DKI untuk pendidikan dasar sebesar Rp5,25 triliun cukup untuk menggratiskan biaya sekolah pendidikan dasar bagi keluarga miskin.

”Kenyataannya masih banyak pungutan di sekolahsekolah, termasuk sekolah negeri” kata Subandi kemarin. Berdasarkan hasil survei terhadap 400 koresponden keluarga miskin dari lima wilayah DKI Jakarta (tidak termasuk Kepulauan Seribu), masih ditemukan keluhan pungutan biaya selain sumbangan pembinaan pendidikan.

Sebesar 35% dari hasil survei terjadi di tingkat SD,32% pada tingkat SMP, sedangkan 10% mengaku dipersulit masalah administrasi ketika masuk sekolah. Menurut Kasi Disiplin Tenaga Kependidikan Dikdas DKI Jakarta Sophan Widianto, pihaknya akan menindaklanjuti temuan tersebut. ”Namun, prosesnya akan kami lakukan secara tertutup karena laporan ini sifatnya masih praduga tidak bersalah” ungkapnya.

Sumber : Koran Sindo
Berita Lain terkait Aksi ini bisa dibaca di : Warta Kota
Selengkapnya...

Kamis, 06 November 2008

Seminar Peran Kaukus Parlemen DKI Jakarta

Seknas FITRA pada hari selasa, 28 Oktober 2008 bertempat di Hotel Harris Jakarta menyelenggarakan Seminar Publik dengan tema : Peran Kaukus Parlemen Jakarta dalam Reformasi Perencanaan Penganggaran. Seminar yang dihadiri oleh lebih kurang 70 peserta ini menghadirkan narasumber Dr. Andrinof Chaniago dari Universitas Indonesia, Syamsidar Siregar, Tatang Rusfandi, dan Habib A. Husein Alaydrus dari Kaukus Parlemen DKI Jakarta, Abdul Waidl dari Koalisi Garap Jakarta dan Yuna Farhan dari Seknas FITRA.

Sebagaimana diketahui, bahwa Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia pada tahun 2007 – 2008 bekerjasama dengan Seknas FITRA menginisiasi program Kaukus DPRD di DKI Jakarta setelah sebelumnya pada tahun 2005-2006 bekerjasama dengan mitra di daerah sukses menginisiasi terbentuknya Kaukus DPRD di 5 provinsi di Indonesia baik di DPRD tingkat Kabupaten maupun DPRD tingkat Provinsi yakni di Jawa Tengah, Yogyakarta, Sumatera Barat, NTB, dan Sulawesi Tengah.

Setelah melalui proses yang panjang dimulai Agustus 2007, maka Kaukus DPRD DKI Jakarta dideklarasikan pada bulan Maret 2008 di gedung DPRD DKI Jakarta dengan anggota Kaukus sebanyak 30 Orang lintas partai, lintas fraksi, & lintas komisi. Anggota Kaukus terdiri dari individu-individu yang mau bergabung tanpa paksaan dari pihak manapun.

Berbagai macam kegiatan diselenggarakan untuk mendukung program Kaukus DPRD DKI Jakarta ini antara lain : Pelatihan fungsi Anggaran bagi anggota Kaukus, Asistensi Analisis APBD DKI Jakarta, Asistensi Legal Drafting Raperda Perencanaan Penganggaran, Pertemuan dengan konstituen, Pelatihan anggaran bagi komunitas, dan kegiatan lain yang didesign sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas anggota Kaukus sekaligus mendekatkan anggota Kaukus dengan konstituen/grass root.

Banyak hal yang dapat dicapai dengan dibentuknya kaukus Parlemen ini, diantaranya adalah :
1. Berdasarkan analisis terhadap RAPBD DKI Jakarta 2008 yang diberikan masyarakat sipil kepada anggota Kaukus, maka banyak penghematan anggaran yang disepakati dalam pembahasan APBD.
2. Masyarakat ditingkat bawah semakin mudah berkomunikasi dengan anggota Dewan langsung melalui kontak pribadi anggota Kaukus.
3. Anggota Kaukus berhasil mendorong disyahkannya Perda HIV/AIDS yang diusulkan oleh masyarakat sipil di DKI Jakarta
4. Anggota Kaukus bersama dengan masyarakat sipil di DKI Jakarta mendorong Perda Perencanaan Penganggaran yang transparan dan partisipatif.

Pada acara ini sekaligus diserahkan secara simbolik “Raperda Perencanaan Penganggaran yang Transparan dan Partisipatif” sebagai satu-satunya Raperda Inisiatif Dewan periode 2004 – 2009 yang akan diusung oleh anggota Kaukus. Raperda diserahkan oleh Yuna Farhan (Sekjend Seknas FITRA kepada Syamsidar Siregar dan Tatang Rusfandi (Anggota Kaukus Parlemen DKI Jakarta).

Semoga Raperda tersebut dapat segera disyahkan sebagai Peraturan daerah sehingga berbagai macam persoalan penganggaran di DKI Jakarta, mulai dari sering terlambatnya proses penganggaran sampai dengan substansi anggaran yang Pro Poor dapat tercapai

Selengkapnya...

Jumat, 10 Oktober 2008

Pelatihan Enumerator untuk Survey CRC

Hotel Millennium Jakarta. Pada tanggal 26 September 2008 bertempat di Hotel Millennium Jakarta, Koalisi Garap Jakarta diorganisir oleh PATTIRO dan didukung oleh Partnership for Governance Reform menyelenggarakan Pelatihan Enumerator/Surveyor untuk survey Citizen Report Card yang akan dilaksanakan di DKI Jakarta.

Pelatihan Surveyor ini melibatkan 20 calon surveyor yang berasal dari relawan CSO yang bergabung dalam koalisi Garap Jakarta. Hadir dalam pelatihan ini adalah
Agung Wasono dari Partnership, Suhirman dari FPPM Bandung sebagai konsultan, dan juga Pegiat anggaran dari PATTIRO dan LSM lain di DKI Jakarta.


Selama pelatihan, peserta mendapat penjelasan mengenai CRC dan latar belakang pentingnya melakukan CRC di DKI Jakarta. Selain diajari teknik melakukan wawancara dalam advokasi CRC, peserta juga langsung diarahkan untuk simulasi wawancara kepada masyarakat miskin disekitar hotel millennium, sehingga ketika melakukan survey sesungguhnya peserta tidak kaget.

Pelatihan ini adalah tahapan kegiatan ke 5 (lima) setelah dilakukannya : (1) Training dan Workshop CRC, (2) Wawancara Mendalam di Komunitas Miskin, (3) Diskusi Instrumen dan (4) FGD Stakeholder. Sedangkan tahapan selanjutnya adalah Survey CRC yang akan dilaksanakan pada minggu III Oktober 2008.

Selamat melakukan wawancara untuk para enumerator, semoga tidak mengalami hambatan yang berarti selama dilapangan. Amiin...
Selengkapnya...

Rabu, 24 September 2008

Pemerintah Gagal Atasi Kemiskinan

Janji Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menurunkan jumlah rakyat miskin hingga tinggal 18,8 juta tahun 2009, sesuai Perpres 7/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), gagal total. Hal itu mengingat hingga saat ini, jumlah rakyat miskin masih mencapai 36,8 juta jiwa.

"Dalam sisa waktu kurang dari satu tahun anggaran ini, bagaimana mungkin pemerintah bisa merealisasikan janji menurunkan jumlah rakyat miskin dari 36,8 juta menjadi 18 jutaan. Gagal total dan mustahil jumlah rakyat miskin turun, malah meningkat tajam," kata anggota DPR, Sutradara Gintings, di Jakarta, Senin (22/9).


Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu menambahkan, kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menyebabkan jumlah kemiskinan meningkat tajam.

Ketika awal Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pada 2005, jumlah penduduk miskin mencapai 35,1 juta. Tetapi, akibat kenaikan harga BBM dua kali tahun 2005, (30 persen pada Maret, dan 120 persen pada Oktober), menyebabkan jumlah rakyat miskin meningkat menjadi 39 juta pada 2006.

Menurut Sutradara, angka kemiskinan turun menjadi 37 juta tahun 2007, dan hingga Maret 2008 menjadi 34,8 juta, adalah tidak tepat. Sebab, data itu diperoleh berdasaran survei yang dilakukan kenaikan harga BBM hingga 28 persen pada Mei 2008. Dia memperkirakan, jumlah rakyat miskin mencapai 35,8 juta.

Jumlah itu diperoleh dari perhitungan meningkatnya kemiskinan hingga hampir 4 juta jiwa akibat kenaikan harga BBM 2005 (sampai 120 persen). Bila pada Mei 2008 BBM naik 28 persen (sekitar 25 persen dari kenaikan harga BBM pada 2005), mengakibatkan jumlah rakyat miskin bertambah 1 juta (25 persen dari 4 juta). Bahkan, berdasarkan perhitungan Universitas Gadjah Mada, jumlah rakyat miskin hingga September 2008 mencapai 36,8 juta.

Belanja Meningkat
Hal yang lebih penting, menurut Sutradara, adalah peningkatan belanja negara, yang dalam APBN 2005 mencapai Rp 397 triliun, dan pada tahun anggaran 2008 meningkat dua kali lipat lebih, yakni mencapai Rp 989 triliun. "Kalau belanja yang meningkat dua kali lipat itu, tetapi jumlah rakyat miskin tidak turun, apakah itu namanya perubahan? Jelas kegagalan total," tegasnya.

Dia juga sepakat dengan kritik sejumlah kalangan mengenai standar kemiskinan yang digunakan pemerintah yang jelas tidak realistis. Dari segi pengeluaran, nilai US$ 1 per kapita per hari sudah sangat jauh dari memadai. Itu bisa dilihat dari perbandingan harga barang-barang yang meningkat, seiring dengan laju inflasi.

"Jangankan menggunakan standar Bank Dunia, yakni US$ 2 per kapita per hari, dengan standar BPS saja, kalau pemerintah jujur menunjukkan data kemiskinan pascakenaikan harga BBM, jelas tidak ada penurunan jumlah rakyat miskin. Kalau menggunakan standar Bank Dunia, sudah pasti jumlah orang miskin sangat besar, bisa mencapai 90 juta jiwa," ujarnya.

Terkait hal itu, Sutradara mengkritik mekanisme bantuan langsung tunai (BLT), yang seolah-olah dianggap sebagai pendapatan masyarakat. "Padahal, dana itu dari hanya sementara. Sehingga ketika dihentikan, pasti rakyat penerima BLT tetap miskin," katanya.

Sementara itu, Ketua Fraksi PPP Lukman Hakim yang dihubungi, Selasa (23/9), mengatakan, pemerintah sebaiknya menjelaskan target pengentasan kemiskinan ke masyarakat. Dengan demikian publik menjadi tahu kendala-kendala yang tengah dihadapi pemerintah dalam program tersebut.

"Sekarang kan terjadi perdebatan seputar program itu. Seharusnya, pemerintah terbuka saja, apakah program pengentasan kemiskinan itu berjalan sesuai target atau sebaliknya. Jangan-jangan pemerintah memang gagal pada program pengentasan kemiskinan," katanya.

Di tempat terpisah, Koordinator Konsorsium Kemiskinan Kota (Urban Poor Consortium-UPC), Wardah Hafiz meminta pemerintah menaikkan standar angka kemiskinan yang ada saat ini.

Menurutnya standar saat ini yang hanya Rp 182.636 per kapita per bulan sangat tidak realistis dan menyesatkan. Ia mengusulkan standar garis kemiskinan dipatok naik dua kali lipat. Namun, ia mengingatkan pemerintah pasti tidak akan melakukan itu karena takut angka kemiskinan menjadi tambah banyak dan pemerintah dinilai gagal.

Wardah menilai upaya pemerintah mengatasi kemiskinan belum serius. Ia mengakui ada upaya mengatasi hal tersebut berupa program kartu masyarakat miskin (Gakin) seperti beras miskin, bantuan langsung tunai, bantuan operasional sekolah, dan sebagainya. "Tetapi, program-program itu hanya bersifat sementara dan belum menyentuh persoalan yang sesungguhnya," katanya.

Sesuai dengan apa yang digelutinya selama ini, Wardah berpendapat, sektor informal perlu mendapat perhatian lebih. Alasannya, masyarakat miskin lebih banyak bergerak atau mencari pekerjaan di sektor informal. Sayang, yang terjadi selama ini, tata kota yang memprioritaskan sektor informal diper- sempit dan digusur. Dengan itu maka tidak ada keberpihakan ke masyarakat miskin.

Terbuka
Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat Menko Kesra, Tono Supranoto menyatakan pihaknya terbuka terhadap usul penyempurnaan indikator garis kemiskinan. Menurutnya, terlepas dari suka atau tidak suka terhadap validitas serta akurasi data BPS mengenai kriteria kemiskinan, harus diakui sekarang ini sumber data yang dimiliki pemerintah hanya itu yang ada. Berdasarkan intruksi pemerintah, sumber informasi survei data kemiskinan indikatornya harus menggunakan data BPS. "Karena itu, jika sekarang sejumlah pakar, praktisi, dan masyarakat menilai indikator dan informasi data tersebut harus disempurnakan, mari kita sempurnakan bersama," ujar Tono.

Mengenai perubahan indikator serta variabel garis kemiskinan, Tono mengatakan, "Silakan Anda tanya langsung ke BPS. Mereka yang mengetahui metodologinya. Sekarang ini data paling baik soal kemiskinan nasional hanya dimiliki oleh BPS, dan ini yang jadi pedoman kami."

Ditambahkan, dalam penanggulangan masalah kemiskinan melalui program BLT, BPS telah menetapkan 14 kriteria keluarga miskin, seperti yang telah disosialisasikan oleh Departemen Komunikasi dan Informatika. "Namun, indikator ini bisa diperkaya oleh kearifan tiap-tiap daerah.

Misalnya, di NTT atau NTB, banyak yang rumahnya tak berlantai ubin, namun punya 200 ekor sapi. Mereka jelas bukan orang miskin. Indikator seperti ini juga perlu dipertimbangkan," tukasnya.

[sumber: suara pembaruan]
Selengkapnya...

Sabtu, 13 September 2008

Daftar Nama Anggota Kaukus DPRD DKI Jakarta

Launching Kaukus DPRD DKI Jakarta untuk Anggaran Pro Rakyat Miskin (Feb, 2008)

Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia pada tahun 2005 – 2006 menginisiasi terbentuknya Kaukus parlemen di 5 provinsi di Indonesia yakni di Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Tengah. Kaukus perlemen diinisiasi sebagai salah satu bentuk keperpihakan anggota legislatif kepada rakyat dan terlepas dari baju partai ataupun fraksi.

Kaukus parlemen adalah wadah bagi anggota legislatif secara individu yang mau dan peduli terhadap perubahan yang lebih baik. Kaukus dibentuk sebagai salah satu solusi desakralisasi terhadap institusi negara seperti DPRD dan juga wadah yang lebih cair tanpa harus terikat dengan birokrasi yang kadang berbelit-belit. Selain tentunya sebagai alat mendekatkan wakil rakyat dengan rakyat yang diwakilinya.

Anggota Kaukus juga dipilih berdasarkan assesment yang dilakukan oleh kemitraan bersama dengan LSM setempat dan dipilih anggota yang bersih dan belum pernah terlibat dalam kasus korupsi ataupun perilaku politik yang melanggar etika dan norma yang berlaku di masyarakat.

Pada tahun 2007 – 2008, Kemitraan bekerjasama dengan Seknas FITRA kembali menginisiasi Kaukus Parlemen di DKI Jakarta. Setelah melalui proses yang panjang, maka terjaring 30 anggota DPRD DKI Jakarta yang bergabung dengan Kaukus ini. Anggota Kaukus ini berasal dari hampir semua fraksi yang ada di DPRD DKI Jakarta kecuali Fraksi PKS.

Banyak program yang dilakukan dalam rangka penguatan Kaukus parlemen ini, diantaranya yakni training anggaran, pertemuan dengan konstituen, advokasi APBD, dan juga assistensi penuh kepada anggota Kaukus dalam rangka perjuangan terhadap anggaran yang pro terhadap rakyat miskin terutama anggaran pada sektor pendidikan dan kesehatan.

Berikut daftar nama dan kontak person dari 30 anggota Kaukus DPRD DKI Jakarta, sampaikan aspirasi dan laporkan penyalahgunaan anggaran kepada anggota Kaukus dibawah ini: (klik pada gambar untuk memperbesar)

Selengkapnya...

Rabu, 10 September 2008

Dukung dan Hadiri Kampanye Bangkit dan Suarakan..!


17 Oktober 2008
bagi Aksi Konkret dan Solidaritas melawan Pemiskinan!

Nyatakan aspirasi kita lewat http://www.stoppemiskinan2015.org/ agar Tujuan Pembangunan Milenium bisa dicapai tahun 2015!

APA ITU Bangkit dan Suarakan?
Bangkit & Suarakan merupakan tantangan yang menarik dan inovatif dimanakita berusaha untuk membukukan rekor dunia yang akan dicatat di official Guinness World Record, rekor mobilisasi massa terbanyak dalam sejarah umat manusia untuk BERDIRI sebagai bentuk pernyataan dan komitmen bersama dalam melawan kemiskinan di seluruh dunia pada 17 Oktober 07'.Dengan minimal 10.000 orang yang berdiri kita sudah mencatat rekor dunia, dengan waktu 24 jam. SEMUA ORANG MENGHITUNG!!!

Bangkit & Suarakan adalah mobilisasi yang diinisiasikan dan dirancang bertepatan dengan hari pemberantasan kemiskinan dan hari gelangputih internasional/ White Band Day dalam rangka seruan global untuk melawan kemiskinan(Global Call to Action Against Poverty) pada 17 Oktober.

Bangkit & Suarakan akan meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap MDGs (Meillenium Development Goals) dan menunjukan kepada orang banyak akan pesatnya pertumbuhan dukungan masyarakat dunia untuk mencapai Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) tersebut.Bangkit & Suarakan merupakan kesempatan bagi organisasi anda untuk menjadi bagian dari event global yang sangat menarik dan inovatif ini, dalam mendukung pemberantasan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium.

Kampanye Bangkit 2008
BANGKIT melawan pemiskinan!
SUARAKAN desakan bagi Pemenuhan MDGs!
BANGKIT melawan ketidakadilan & kesenjangan!
SUARAKAN tuntutan pemenuhan janji pembangunan!
BANGKIT bersama-sama dan dihitung!
SUARAKAN bersama-sama dan didengar

Fasilitator Kampanye Milenium Indonesia
Sekretariat
UNIC(UNITED NATIONS INFORMATION CENTRE)
Menara Eksekutif, Lantai 14 Jalan M.H Thamrin, Kav.9, Jakarta 10350
Telp (021) 39831011, 39831013 / Fax (021) 39831014
bangkitsuarakan@gmail.com
Selengkapnya...

 
© 2008 free template by kangrohman modification by agungwasono